Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika (1)
Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Telah banyak uraian mengenai “filsafat”. Suatu hal yang tidak berlebihan bila kajian yang satu ini memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi manusia di muka bumi ini. Bahkan filsafat dapat dikatakan menjadi induk dari semua kajian kehidupan, karena filsafat lahir bersamaan dengan para manusia penggagas/pemikir, namun filsafat tidak mati karena selama masih ada orang yang berfikir, dapat diartikan sedang berfilsafat juga. Dalam konteks kali ini kita akan membahas mengenai filsafat yang berkaitan dengan Pendidikan matematika. Secara kebetulan, ataukah memang ada keterkaitan secara langsung bahwa para filsuf (orang mendalami bidang falsafah) kebanyakan adalah para ahli matematika juga yang senang berurusan dengan logika dan algoritma(ilmu yang mengacu pada kemampuan rasional). Namun, sebenarnya apakah filsafat itu?
Kita dapat mencari pengertian dari filsafat dari berbagai sumber, bahkan kita dapat mendefinisikan filsafat sesuka hati kita, karena saat kita mendefinisikan filsafat, sebenarnya kita juga sedang berfilsafat. Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Setidaknya uraian tadi merupakan hasil pemikiran seseorang melalui situs Wikipedia.
Bahasan selanjutnya adalah mengenai matematika. Matematika menurut Bp. Ariyadi,Msc merupakan suatu ‘bahasa’ yang tentu saja mirip dengan bahasa-bahasa yang lainnya. Istilah ini dipertegas oleh Bp.Dr.Marsigit saat perkuliahan bahwa matematika merupakan alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan suatu algoritma, logika tertentu. Saat itu saya juga setuju dengan beranggapan bahwa satu ditambah dua sama dengan tiga (dalam bahasa Indonesia) dapat pula disajikan sebagai 1+2=3 (dalam bahasa matematika) . Saya tidak bermaksud ingin bermitos ria dengan berhenti pada definisi diatas. Memang harus diakui bahwa gudang ilmu bukanlah internet,buku atau apapun.Akan tetapi, hatiku lah gudang ilmu yang sesungguhnya. Namun saya juga tidak akan menafikan keberadaan mitos-mitos itu sebagai suatu hal yang tercela, bahkan justru itu adalah kaidah dari ilmu. Satu hal yang penting dan bertentangan dengan dunia filsafat memang mitos itu sendiri.
Pembicaraan mengenai ‘bahasa’ memang menarik. Saat perkuliahan, Bp. Ariyadi menyampaikan salah satu keunikan bahasa jawa yang penuh dengan nasehat dan falsafah. Memang harus diakui eksistensi berbagai versi cerita kemunculan bahasa jawa. Salah satunya sebagai berikut
hana, caraka data, sawala padha jayanya maga bathanga. yang artinya: “Ada pengikut (prajurit) yang bertentangan (berbeda pendapat) sama saktinya keduanya mati”. Ada semacam legenda yang menceritakan kisah dari Versi panjang dari cerita ini adalah
Pada jaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai 2 orang pengikut setia, kedua-duanya adalah pengawal yang sangat sakti. karna gejolak didalam kerajaan nya, suatu hari sang raja memanggil salah satu pengawalnya dan menitipkan sebuah keris kepadanya dan berpesan “Pergilah bawalah keris ini, dan jangan berikan kepada siapapun selain aku”, setelah itu pergilah pengawal yang setia itu. beberapa tahun kemudaian sang raja memanggil pengawalnya yang lain dia memerintahkan untuk mengambil keris tesebut. Maka berangkatlah si pengawal tadi dan bertemu dengan temannya, ketika dia meminta keris tersebut temannya teringat akan pesan sang raja, bahwa siapapun yang mengambil keris tersebut selain dirinya tidak boleh. Maka keduanya ribut mempertahankan pendapat, dan kesetiaan mereka terhadap tugas yang diembannya, maka terjadilah pertarungan diantara keduanya, dan kerena kesaktian mereka yang seimbang, mereka saling bunuh dan kedua duanya mati. Kemudian sang raja menyesali ke keliruannya dan dia mengucapkan “hana(ana) caraka, data sawala padha jayanya maga bathanga”. Selain itu, Bp.Ariyadi juga menyampaikan berbagai nasehat yang tersirat dari untaian kata dalam bahasa jawa kuno. Saya mengakui, memang sulit untuk dapat berfilsafat karena memang sesuatu yang tidak muncul dari hati akan kembali pada suatu mitos. Maka dari itu bahasan kali ini akan kita pertegas landasannya.
Ada beberapa landasan yang digunakan dalam mempelajari filsafat.
1. Ontology (hakekat)
Ontologi merupakan salah satu kajian yang mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.
2. Epistemology (metode)
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
3. Aksiologi (manfaat)
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Selanjutnya, saya akan membahas mengenai ‘ilmu’ dari sudut pandang filsafat sesuai kode etik yang dimilikinya. Uraian descrates yang menyatakan bahwa “aku berfikir maka aku ada”, secara pribadi bertentangan dengan anggapanku. sebenarnya tidak mutlak bertentangan, hanya aku memandang dari sudut pandang yang lain.semua itu karena aku masih fana. Saya menganggap jika saya sudah dapat berfikir, maka apa yang kupikirkan itu sejatinya adalah hampa karena yang mutlak ada adalah ilmu Allah subhanahu wata’ala. Singkatnya, saat saya berfikir, maka muncul kesadaran bahwa saya fana. Lebur kedalam sejatinya ilmu. ‘laa ma’buda ilaLLAh’ dan “laa maujuda ilaLLah”. Maka itulah sebenar-benar kesaksianku. Saat aku berfikir, saat bernafas, saat berkedip, saat melempar, maka sejatinya aku dititipi ilmu, digerakkan, dituntun oleh
Tuhan bak cerita wayang dalam hanacaraka …
Saat aku berfikir dan terlupa pada kemutlakanNYA, maka ada perihal (lubang dihati) yang harus dilengkapi. (seperti uraian dari Noe_letto). Maka isi apakah yang dapat melengkapi lubang di hati itu. Dialah Allah tuhannya semesta alam yang tak pernah pergi kemana-mana. Dia selalu dihati ini.
Ilmu Allah melingkupi semua ilmu tanpa ada kontradiksi apapun. Sedangkan baik-buruk, hitam-putih, pagi-sore, mekar-layu, dsb. merupakan bentuk kontradiksi yang menggambarkan sesuatu yang semu. Semua hal yang bersifat semu akan lebur menjadi satu dalam hatiku saat aku mampu menepis kontradiksi-kontradiksi yang ada. Kesejatian ilmu tentang penyaksian Tuhan. Inaa ilaihi rooji’un. Sesungguhnya kita akan kembali disisiNya.
wallahu a'lam bishowab
Telah banyak uraian mengenai “filsafat”. Suatu hal yang tidak berlebihan bila kajian yang satu ini memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi manusia di muka bumi ini. Bahkan filsafat dapat dikatakan menjadi induk dari semua kajian kehidupan, karena filsafat lahir bersamaan dengan para manusia penggagas/pemikir, namun filsafat tidak mati karena selama masih ada orang yang berfikir, dapat diartikan sedang berfilsafat juga. Dalam konteks kali ini kita akan membahas mengenai filsafat yang berkaitan dengan Pendidikan matematika. Secara kebetulan, ataukah memang ada keterkaitan secara langsung bahwa para filsuf (orang mendalami bidang falsafah) kebanyakan adalah para ahli matematika juga yang senang berurusan dengan logika dan algoritma(ilmu yang mengacu pada kemampuan rasional). Namun, sebenarnya apakah filsafat itu?
Kita dapat mencari pengertian dari filsafat dari berbagai sumber, bahkan kita dapat mendefinisikan filsafat sesuka hati kita, karena saat kita mendefinisikan filsafat, sebenarnya kita juga sedang berfilsafat. Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Setidaknya uraian tadi merupakan hasil pemikiran seseorang melalui situs Wikipedia.
Bahasan selanjutnya adalah mengenai matematika. Matematika menurut Bp. Ariyadi,Msc merupakan suatu ‘bahasa’ yang tentu saja mirip dengan bahasa-bahasa yang lainnya. Istilah ini dipertegas oleh Bp.Dr.Marsigit saat perkuliahan bahwa matematika merupakan alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan suatu algoritma, logika tertentu. Saat itu saya juga setuju dengan beranggapan bahwa satu ditambah dua sama dengan tiga (dalam bahasa Indonesia) dapat pula disajikan sebagai 1+2=3 (dalam bahasa matematika) . Saya tidak bermaksud ingin bermitos ria dengan berhenti pada definisi diatas. Memang harus diakui bahwa gudang ilmu bukanlah internet,buku atau apapun.Akan tetapi, hatiku lah gudang ilmu yang sesungguhnya. Namun saya juga tidak akan menafikan keberadaan mitos-mitos itu sebagai suatu hal yang tercela, bahkan justru itu adalah kaidah dari ilmu. Satu hal yang penting dan bertentangan dengan dunia filsafat memang mitos itu sendiri.
Pembicaraan mengenai ‘bahasa’ memang menarik. Saat perkuliahan, Bp. Ariyadi menyampaikan salah satu keunikan bahasa jawa yang penuh dengan nasehat dan falsafah. Memang harus diakui eksistensi berbagai versi cerita kemunculan bahasa jawa. Salah satunya sebagai berikut
hana, caraka data, sawala padha jayanya maga bathanga. yang artinya: “Ada pengikut (prajurit) yang bertentangan (berbeda pendapat) sama saktinya keduanya mati”. Ada semacam legenda yang menceritakan kisah dari Versi panjang dari cerita ini adalah
Pada jaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai 2 orang pengikut setia, kedua-duanya adalah pengawal yang sangat sakti. karna gejolak didalam kerajaan nya, suatu hari sang raja memanggil salah satu pengawalnya dan menitipkan sebuah keris kepadanya dan berpesan “Pergilah bawalah keris ini, dan jangan berikan kepada siapapun selain aku”, setelah itu pergilah pengawal yang setia itu. beberapa tahun kemudaian sang raja memanggil pengawalnya yang lain dia memerintahkan untuk mengambil keris tesebut. Maka berangkatlah si pengawal tadi dan bertemu dengan temannya, ketika dia meminta keris tersebut temannya teringat akan pesan sang raja, bahwa siapapun yang mengambil keris tersebut selain dirinya tidak boleh. Maka keduanya ribut mempertahankan pendapat, dan kesetiaan mereka terhadap tugas yang diembannya, maka terjadilah pertarungan diantara keduanya, dan kerena kesaktian mereka yang seimbang, mereka saling bunuh dan kedua duanya mati. Kemudian sang raja menyesali ke keliruannya dan dia mengucapkan “hana(ana) caraka, data sawala padha jayanya maga bathanga”. Selain itu, Bp.Ariyadi juga menyampaikan berbagai nasehat yang tersirat dari untaian kata dalam bahasa jawa kuno. Saya mengakui, memang sulit untuk dapat berfilsafat karena memang sesuatu yang tidak muncul dari hati akan kembali pada suatu mitos. Maka dari itu bahasan kali ini akan kita pertegas landasannya.
Ada beberapa landasan yang digunakan dalam mempelajari filsafat.
1. Ontology (hakekat)
Ontologi merupakan salah satu kajian yang mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.
2. Epistemology (metode)
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
3. Aksiologi (manfaat)
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Selanjutnya, saya akan membahas mengenai ‘ilmu’ dari sudut pandang filsafat sesuai kode etik yang dimilikinya. Uraian descrates yang menyatakan bahwa “aku berfikir maka aku ada”, secara pribadi bertentangan dengan anggapanku. sebenarnya tidak mutlak bertentangan, hanya aku memandang dari sudut pandang yang lain.semua itu karena aku masih fana. Saya menganggap jika saya sudah dapat berfikir, maka apa yang kupikirkan itu sejatinya adalah hampa karena yang mutlak ada adalah ilmu Allah subhanahu wata’ala. Singkatnya, saat saya berfikir, maka muncul kesadaran bahwa saya fana. Lebur kedalam sejatinya ilmu. ‘laa ma’buda ilaLLAh’ dan “laa maujuda ilaLLah”. Maka itulah sebenar-benar kesaksianku. Saat aku berfikir, saat bernafas, saat berkedip, saat melempar, maka sejatinya aku dititipi ilmu, digerakkan, dituntun oleh
Tuhan bak cerita wayang dalam hanacaraka …
Saat aku berfikir dan terlupa pada kemutlakanNYA, maka ada perihal (lubang dihati) yang harus dilengkapi. (seperti uraian dari Noe_letto). Maka isi apakah yang dapat melengkapi lubang di hati itu. Dialah Allah tuhannya semesta alam yang tak pernah pergi kemana-mana. Dia selalu dihati ini.
Ilmu Allah melingkupi semua ilmu tanpa ada kontradiksi apapun. Sedangkan baik-buruk, hitam-putih, pagi-sore, mekar-layu, dsb. merupakan bentuk kontradiksi yang menggambarkan sesuatu yang semu. Semua hal yang bersifat semu akan lebur menjadi satu dalam hatiku saat aku mampu menepis kontradiksi-kontradiksi yang ada. Kesejatian ilmu tentang penyaksian Tuhan. Inaa ilaihi rooji’un. Sesungguhnya kita akan kembali disisiNya.
wallahu a'lam bishowab
Komentar
Posting Komentar