Kajian Lintas Dimensi
MENGGAPAI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
\
sumber ;
http://pbmmatmarsigit.blogspot.com/
http://powermathematics.blogspot.com/
http://marsigitphilosophy.blogspot.com/
http://radicalacademy.com/diahistphil.htm
refleksi selama perkuliahan
…,al-fajr buletin edisi 13 tahun II/Mei '09 , Yogyakarta
Kajian lintas bahasan.
Antara Aku, Filsafat, Pendidikan dan Matematika
Aku, kata yang merupakan sebuah kata ganti yang digunakan oleh para subyek untuk menyebut dirinya sendiri, akan menjadi pengantar bahasan kita pada saat ini. Bukanlah sekedar definisi yang dibahas, melainkan korelasinya dengan pihak eksternal yang dalam bahasan filsafat 'aku' bisa saja sebagai subyek, bisa saja sebagai obyek. Banyak sekali uraian yang mencoba menjelaskan apa definisi dari 'aku', 'filsafat', 'matematika', dan 'pendidikan'. Maka dari itu, pada kesempatan ini saya mencoba mengangkat permasalahan yang ada diantara kata-kata itu.
Dalam kaitannya dengan filsafat, kajian mengenai aku bisa saja sangatlah luas. Apabila ingin menghubungkannya dengan matemaika, toh itu juga sudah berabad-abad yang lalu dibahas oleh orang-orang pada masanya. Apalagi dikaitkan dengan dunia pendidikan yang memang sangat tidak asing bagi manusia karena pada dasarnya sejak manusia lahir langsung melakukan aktivitas pendidikan itu sendiri. Lalu, sekarang apa masalahnya hingga sampai saat ini, kajian kajian tersebut seakan tetap menjadi primadona para umat manusia? apa yang unik darinya? apa manfaat dari itu semua? bagaimana melakukannya? wah-wah, sabar. Kita memang harus pelan-pelan dalam setiap keadaan agar kita tidak terjebak pada jebakan filsafat. kita sudah mulai keranah pemikiran, maka dari itu kita juga harus sesuai dengan aturan main yang telah menjadi kesepakatan bersama demi mempermudah kajian.
Sebelum menguraikan lebih dalam lagi, perlu kita sadari bahwa kita (baca_manusia) yang merupakan makhluk yang dilengkapi dengan beragam komponen, yakni :
1. jasadiyah
2. fikriyah
3. ruhaniyah
setidaknya itu merupakan hasil dari proses generalisasi sekaligus reduksi. dari ketiga komponen tersebut, kita harus pahami bahwa masing-masing komponen bekerja pada frekwensi dan dimensi yang berbeda-beda. Mereka memiliki jatah bahasan masing-masing.
Jasadiyah yang merupakan komponen paling luar, yang dilengkapi dengan panca indera tentu tidak mampu menjelaskan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan detail selengkap fikriyah. Begitu juga fikriyah tidak mampu menjelaskan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada sedetail dan selengkap ruhaniyah. Maka dari itu ketika jasadiyah tidak lagi mampu menjelaskan, berikan kesempatan kepada fikriyah. Apabila fikriyah tidak dapat menjelaskan, berikan kesempatan pada hati untuk menjelaskan. Meski pada praktiknya ketiganya harus bekerja bersamaan. Tujuannya adalah menetapkan hati agar tetap sebagai komandan.
Ini penting sebagai modal awal kita dalam mempelajari filsafat karena filsafat yang merupakan kajian yang berada pada dimensi kedua, berada diantara dua komponen lainnya. Hal ini supaya kita selalu waspada dan menyadari terhadap keterbatasan pikiran kita untuk menjelaskan semua.
Bahasan mengenai filsafat itu sendiri, yang kita ketahui bersama bahwa sebagai pilar utama yang mendasari kajian ini ada tiga, yakni :
1. ontologi / hakekat
2. epistemologi /metode
3. aksiologi /manfaat
Adapun uraian dari tokoh ternama L Bagus yang menjabarkan ontologi ke dalam beberapa abstraksi yakni :
a. abstraksi fisik, yang mewakili sifat dari suatu obyek,
b. abstraksi bentuk, yang menjabarkan sifat sekumpulan obyek sejenis,
c. abstraksi metafisik, yang mencoba menggeneralkan sifat obyek.
sedangkan untuk tahap selanjutnya, (baca_epistemologi) berbagai paham telah dikenalkan oleh para filsuf tingkat dunia seperti J.Locke, E.Kant, dan lainnya. hal ini dapat kita tarik garis besarnya yakni ada,
a. empirism (salah satunya J.Locke)
b. rasionalism (salah satunya Spinoza)
c. fenomenalism (salah satunya E.Kant)
d. intuisionism (salah satunya Henri B.)
e. pragmatism (salah satunya w.James)
dan lain sebagainya. tentu ini masih secara acak karena pada kesempatan ini saya berkepentingan menyampaikan pola fikir mereka yang mencoba dikaitkan dengan pendidikan (khususnya matematika).
Namun untuk membahas suatu ilmu, haruslah berbekal ilmu jua. Berguru ilmu dan berbagi ilmu sesuai kode etik dalam lintas kajian sseperti filsafat ini. Keberhati-hatian ini sebenarnya juga diwanti-wanti oleh R.Bakon yang disebut dengan ancaman 'idol'. Kita sadari bahwa ada berbagai macam idol (panggung,etnik,pasar,otoritas) yang siap memberikan ranjau-ranjau kajian itu sendiri. Seperti dalam elegi konferensi patung filsafat dan pemberontakannya (versi Bp.Marsigit) yang dapat anda simak di situs konferensi-patung-filsafat , dan pemberontakan-patung-filsafat yang mana memperbincangkan para ranjau agar diwaspadai oleh para subyek.
Mari kita lanjutkan dengan mengkaitkanya dengan matematika. Para filsuf matematika yang terkenal adalah Plato, Aristoteles, Phytagoras, dan Kant. Adapaun pemikiran atau pandangan mereka terhadap ilmu matematika yaitu, bagi plato yang penting adalah tugas akal untuk membedakan penampakan dari kenyataan yang sebenarnya.Ia yakin bahwa terdapat objek-objek yang permanent, tertentu bebas dari pikir yang anda sebut satu, dua, tiga dan sebagainya. Aristoteles menolak pembedaan Plato antara dunia ide yang disebutnya realita kebenaran, ia menekankan pada dunia ide yang permanent dan merupakan realita daripada abstraksi dari apa yang tampak. Kant membagi proposisi ke dalam tiga kelas, yakni
1. Proposisi Analitis
2. Proposisi sintetis
3. Proposisi Aritmatika dan geometri murni
Phytagoras menyatakan bahwa fenomena yang tampak berbeda dapat memiliki representative matematika yang identik (cahaya,magnet,listrik dapat mempunyai persamaan diferensial yang sama).
Secara singkat, mari kita bahas mengenai filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan pemikiran-pemikiran filsafati tentang pendidikan. Kajian ini terkonsentrasi pada proses pendidikan, dapat pula pada ilmu pendidikan. pada kajian proses pendidikan, yang ditekankan adalah cita-cita, bentuk dan metode serta hasil proses belajar itu. sedangkan bahasan mengenai ilmu pendidikan menitikberatkan pada konsep, ide dan metode yang digunakan dalam menelaah ilmu pendidikan. dalam hal ini, filsafat pendidikan matematika termasuk filsafat yang membicarakan proses pendidikan matematika. Tentunya filsafat pendidikan matematika mempersoalkan permasalahan permasalahan yang garis besarnya seperti : Sifat dasar matematika, psikologi belajar matematika, teori mengajar matematika, pengembangan kurikulum matematika sekolah, penerapan kurikulum matematika di sekolah, dan masih banyak lainnya yang cukup kompleks.
Kajian psikologi belajar matematika merupakan salah satu hal yang (mungkin) bisa dianggap paling menarik demi perkembangan ilmu matematika karena ini berkaitan langsung dengan hal-hal yang sangat kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Ini berpengaruh terhadap kurikulum yang sesuai, metodologi pengajaran yang tepat, respon dalam menanggapi keadaan, hingga pada hasil dari pembelajaran itu sendiri. Telah kita sadari bersama bahwa problematika pendidikan dewasa ini memang sangat kompleks. Bukan lagi sekedar masalah mencerdaskan peserta didik, namun yang lebih penting adalah bagaimana membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.
Hakekat pendidikan yang dirumuskan oleh pemerintah memang untuk memanusiakan manusia. Maksudnya, bagaimana manusia dapat semakin menjadi manusia seutuhnya setelah mengalami suatu bentuk proses pendidikan. Sudah waktunya untuk beralih tatacara pembelajaran tanpa dilandasi hakekat pembelajaran tadi. Guru matematika khususnya dituntut untuk menjadi seorang KiHajar D. yang benar-benar memegang teguh semboyan "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani". Bukan hanya sekedar pengajar, tapi juga pendidik. Menurut A.Einstein, "with his specialized knowledge-more closely resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person", yang kurang lebih menyindir bahwa, dengan mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tak ada bedanya melatih seekor anjing. Mari kita simak kembali uraian Bp.Marsigit di blognya mengenai elegi menggapai harmoni. Hal ini juga disampaikan dalam elegi jebakan filsafat, yang mana sekarang ini manusia sering kali terjebak dalam hal-hal yang sebenarnya bukan hakekat dari persoalan itu. Inilah makna dari tulisan saya mengenai 'burung murgh' edisi posting yang lalu(pada blog ini).
Humanisasi pendidikan adalah sebuah sistem yang sedang dibutuhkan dinegara ini, mengingat sekian banyak pendidikan disini mencetak manusia robot yang (sebagian) selalu dicekoki dengan mitos-mitos kehidupan. Jadi, humanisasi pendidikan ini juga merupakan satu usaha menggapai logos (musuhnya mitos…..). Yang menjadi permasalahan baru adalah, kita sering banyak berteori dan berargumen yang berlebihan (mungkin termasuk penulis saat ini juga hanya sedang berteori belaka tanpa refleksi nyata),adalah juga mitos itu sendiri. Bahkan sampai-sampai itu dijadikan sindiran dalam iklan produk tertentu (talk less do more). Astaghfirullah. mari kita semua berusaha untuk terus menghindar dari mitos-mitos, mengikhlaskan jiwa (seperti si-murgh) demi menghindari jebakan filsafat. Pecahkan gunung es yang ada dihadapan kita sampai dasar-dasarnya meski kita tahu takkan mungkin dengan keterbatasan manusia dapat mengejawantahkan sesuatu yang tak terbatas. Ini kembali ke masalah perbedaan dimensi. Jika pikiran sudah mumet, kembalikan kehati sebagai imam kita dalam menjalani kehidupan karena hati adalah sang komandan.
Wallohu a’lam
\
sumber ;
http://pbmmatmarsigit.blogspot.com/
http://powermathematics.blogspot.com/
http://marsigitphilosophy.blogspot.com/
http://radicalacademy.com/diahistphil.htm
refleksi selama perkuliahan
…,al-fajr buletin edisi 13 tahun II/Mei '09 , Yogyakarta
sukses ya...
BalasHapusamien... makasi atas do'anya.
BalasHapussukses juga buat anda.