Elegi Perbincangan Silogisma
Hakim:
Wahai silogisma, silahkan adukan kasusmu dengan sebenar-benarnya supaya aku dapat membantumu mendapatkan keadilan dunia akherat. Namun ingatlah, penyaksianku terhadapmu sangatlah luas. Maka dari itu aku akan menyertakan reduksi sebagai pusaka dari setiap ucapanmu itu. Manfaatkanlah reduksi itu sebaik-baiknya.
Silogisma:
Sebelumnya, aku haturkan rasa terima kasih kepada baginda hakim yang bersedia mengabulkan gugatan ku ini. Pertama kali yang perlu diketahui adalah, sebenarnya aku melaporkan gugatan ini sejak aku lahir. Karena baru saat ini gugatanku direspon, maka aku akan memanfaatkan kesempatan ini berikut dengan fasilitas-fasilitasnya semaksimal mungkin. Namaku silogisma. Aku akan menyimpan senjata ini di keranjang kebenaran saja.
Hakim:
Ya,ya aku sudah tahu namamu sejak engkau lahir. Lanjutkan wahai silogisma.
Silogisma:
Aku lahir semenjak dunia ini diciptakan. Semenjak aku lahir, sudah membawa berjuta-juta potensi. Aku langsung menyaksikan peradaban dunia semenjak aku lahir. Semenjak aku lahir, aku langsung dimanfaatkan oleh peradaban. Mungkin, semua subyek telah menggunakan dan memanfaatkanku. Mereka semua pernah meminta tolong kepada ku, dan sekalipun aku tidak pernah menolaknya. Aku pasti akan membantu apabila mereka memenuhi syarat-syaratku.
Hakim:
Ya.. benar,benar. Lalu, apa masalahmu?
Silogisma:
Saat ini aku ingin keberadaanku diakui oleh mereka semua, terutama yang sedang dan akan menggunakanku. Aku juga berharap istriku, anakku dan teman-temanku sesama silogisma memiliki jati diri mereka. Kami semua adalah sama-sama makhluk yang juga berhak melengkapi isi dunia ini.
Hakim:
Baiklah. Permintaanmu akan ku kabulkan. Akan tetapi engkau harus menunjukkan bukti keberadaanmu dahulu kepada semua subyek. Hal ini supaya keputusanku terhindar dari mitosmu. Aku akan memberikan waktu sampai esok lusa karena tugasmu berat, yakni menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada. kumpulkanlah semua bukti otentik lengkap dengan syarat dan prasyaratnya supaya aku dapat meningkatkan dimensimu. Ingat, aku akan datang sewaktu engkau butuhkan.
Silogisma:
Baiklah. Kalau begitu, aku mohon undur diri.
><
Silogisma:
Hmm, baiklah. Ternyata aku harus memperjuangkannya sendiri. Bagaimana caranya supaya aku dapat mengumpulkan bukti-bukti yang tersebar itu?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai silogisma. Panggillah aku pemuda bijak berjenggot. Aku tahu engkau baru saja memanggilku. Akulah entitas ilmumu.
Silogisma:
Wahai pemuda bijak berjenggot, akhirnya engkau datang juga. Bagaimanakah aku harus menunjukkan keberadaanku kepada semua subyek agar aku ini dikenal oleh mereka?
Pemuda bijak berjenggot:
Baiklah. Aku tahu kerisauanmu.Aku akan membantumu semampuku. Ikutilah saranku ini,dan selebihnya bertawakallah engkau kepada Tuhan. Yang harus engkau lakukan adalah mengajak syarat-syaratmu kemudian bersembunyi dahulu dan mengamati kegiatan subyek. Apabila engkau merasa barusaja di gunakan, laporlah langsung kepada hakim. Namun ingat, engkau tidak perlu melaporkan semuanya, karena engkau sendiri takkan sanggup membilang dirimu. Gunakanlah senjata reduksi yang berada di keranjang kebenaranmu itu.
Silogisma:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot.
Pemikiran deduktif:
Wahai silogisma, diam-diam aku telah mendengarkan pembicaraan kalian tadi. Aku bersedia membantumu karena engkau adalah bagian dariku.
Silogisma:
Siapakah engkau? Mengapa engkau selalu didepanku?
Pemikiran deduktif:
Aku adalah pemikiran deduktif. Aku berada didepanmu kapanpun dan dimanapun, karena aku adalah prasyarat dari keberadaanmu. Aku menyaksikan penarikan pernyataan yang bersifat umum ke khusus. Maka dari itu, apabila ada penarikan pernyataan yang bersifat umum ke khusus, maka bisa jadi itu dirimu.
Silogisma:
Baiklah kalau begitu, wahai pemikiran deduktif, tuntunlah aku kapanpun dan dimanapun aku berada.
Pemikiran deduktif:
Namun aku mau bertanya kepadamu dulu, apa yang engkau bawa itu?
Silogisma:
Oh, ini adalah reduksi yang berada di keranjang kebenaran. Inilah modal awalku memulai pengembaraanku.
Keranjang kebenaran:
Salam wahai Pemikiran deduktif. Kenalkan, aku adalah keranjang kebenaran,lengkapnya adalah keranjang kebenaran relatif. Dan kenalkan juga ini adalah reduksi. Aku rasa kita dapat berpatner karena kita sama-sama menjadi prasyarat silogisma. Maka masuklah kedalam diriku segera karena kita akan langsung beranjak.
Silogisma:
Oh, ternyata keranjang kebenaran ini juga dapat berbicara. Baiklah, engkau juga aku beri amanah mengamati diriku agar diriku selalu berada dalam kebenaran. Lalu bagaimana denganmu wahai pemikiran deduktif? Maukah engkau menerima tawaran keranjang kebenaran untuk masuk ke keranjang yang sempit ini?
Pemikiran deduktif:
Salam juga keranjang kebenaran. Akh, aku rasa tidak perlu. Terima kasih atas tawaranmu itu. Kita tetap dapat bekerjasama dengan posisi kita masing-masing.
Silogisma:
Baiklah. Mari kita mulai bekerja mencari subyek-subyek itu. Lekaslah bersembunyi
><
Premis1:
Aku adalah premis1. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “semua manusia pasti akan mati”.
Premis2:
Sombong sekali engkau wahai premis1. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa semua mahasiswa itu adalah manusia.”
Konklusi:
Salam wahai premis1, salam wahai premis2, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran. Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘semua mahasiswa itu pasti akan mati.’
Premis1 dan premis2:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis1,premis2,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis1,Premis2,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat kategorik. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma kategorik.
Silogisma kategorik:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Jika engkau bertanya maka aku muncul’. ‘Jika aku muncul maka aku berusaha menjawab pertanyaanmu’. Jadi aku tinggal mengatakan ‘jika engkau bertanya, maka aku berusaha menjawab pertanyaanmu’.
Silogisma kategorik:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Premis3:
Aku adalah premis3. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “jika malam tiba, maka matahari tidak terlihat disini”.
Premis4:
Sombong sekali engkau wahai premis3. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa saat ini telah malam.”
Konklusi:
Salam wahai premis3, salam wahai premis4, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran, Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘saat ini matahari tidak terlihat disini.’
Premis3 dan premis4:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis3,premis4,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis3,Premis4,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat hipotetik. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma hipotetik.
Silogisma hipotetik:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Jika engkau bertanya maka aku muncul’.dan ‘engkau sedang bertanya’. Jadi aku tinggal mengatakan ‘aku muncul’.
Silogisma hipotetik:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Premis5:
Aku adalah premis5. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “saat ini si fulan sedang berada di masjid atau dirumah”.
Premis6:
Sombong sekali engkau wahai premis5. Bahkan kalimatmu itu masih ambigu. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa saat ini si fulan sedang berada di masjid.”
Konklusi:
Salam wahai premis5, salam wahai premis6, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran, Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘saat ini si fulan tidak berada di rumah.’
Premis5 dan premis6:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis5,premis6,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis5,Premis6,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat disjungtif. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma disjungtif.
Silogisma disjungtif:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Sekarang engkau bertanya atau menjawab’.dan ‘tentu sekarang engkau bertanya’ . Jadi aku tinggal mengatakan ‘engkau tidak menjawab’.
Silogisma disjungtif:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Silogisma kategorik, silogisma hipotetik, dan silogisma disjungtif berteriak:
Wahai hakim, dimanakah engkau berada? Sekarang ini kami sudah menemukan diri-diri kami. Inilah bukti eksistensi kami.
Hakim:
Hahaha... aku geli mendengar teriakan kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan kalian semenjak kalian berkoalisi tadi. Aku selalu berada didalam dan diluar pikiran kalian karena masing-masing dari engkau itu sebenarnya adalah juga bagian daripadaku. Kamu adalah aku juga. Akukan sudah mengatakan bahwa aku dapat muncul setiap saat asalkan kalian membutuhkanku. Mulai saat ini, aku angkat derajat kalian menjadi sebuah hukum silogisma. Gunakanlah jabatan ini untuk melayani para subyek yang membutuhkanmu. Jadikanlah hidup kalian untuk dapat memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Wahai silogisma, silahkan adukan kasusmu dengan sebenar-benarnya supaya aku dapat membantumu mendapatkan keadilan dunia akherat. Namun ingatlah, penyaksianku terhadapmu sangatlah luas. Maka dari itu aku akan menyertakan reduksi sebagai pusaka dari setiap ucapanmu itu. Manfaatkanlah reduksi itu sebaik-baiknya.
Silogisma:
Sebelumnya, aku haturkan rasa terima kasih kepada baginda hakim yang bersedia mengabulkan gugatan ku ini. Pertama kali yang perlu diketahui adalah, sebenarnya aku melaporkan gugatan ini sejak aku lahir. Karena baru saat ini gugatanku direspon, maka aku akan memanfaatkan kesempatan ini berikut dengan fasilitas-fasilitasnya semaksimal mungkin. Namaku silogisma. Aku akan menyimpan senjata ini di keranjang kebenaran saja.
Hakim:
Ya,ya aku sudah tahu namamu sejak engkau lahir. Lanjutkan wahai silogisma.
Silogisma:
Aku lahir semenjak dunia ini diciptakan. Semenjak aku lahir, sudah membawa berjuta-juta potensi. Aku langsung menyaksikan peradaban dunia semenjak aku lahir. Semenjak aku lahir, aku langsung dimanfaatkan oleh peradaban. Mungkin, semua subyek telah menggunakan dan memanfaatkanku. Mereka semua pernah meminta tolong kepada ku, dan sekalipun aku tidak pernah menolaknya. Aku pasti akan membantu apabila mereka memenuhi syarat-syaratku.
Hakim:
Ya.. benar,benar. Lalu, apa masalahmu?
Silogisma:
Saat ini aku ingin keberadaanku diakui oleh mereka semua, terutama yang sedang dan akan menggunakanku. Aku juga berharap istriku, anakku dan teman-temanku sesama silogisma memiliki jati diri mereka. Kami semua adalah sama-sama makhluk yang juga berhak melengkapi isi dunia ini.
Hakim:
Baiklah. Permintaanmu akan ku kabulkan. Akan tetapi engkau harus menunjukkan bukti keberadaanmu dahulu kepada semua subyek. Hal ini supaya keputusanku terhindar dari mitosmu. Aku akan memberikan waktu sampai esok lusa karena tugasmu berat, yakni menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada. kumpulkanlah semua bukti otentik lengkap dengan syarat dan prasyaratnya supaya aku dapat meningkatkan dimensimu. Ingat, aku akan datang sewaktu engkau butuhkan.
Silogisma:
Baiklah. Kalau begitu, aku mohon undur diri.
><
Silogisma:
Hmm, baiklah. Ternyata aku harus memperjuangkannya sendiri. Bagaimana caranya supaya aku dapat mengumpulkan bukti-bukti yang tersebar itu?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai silogisma. Panggillah aku pemuda bijak berjenggot. Aku tahu engkau baru saja memanggilku. Akulah entitas ilmumu.
Silogisma:
Wahai pemuda bijak berjenggot, akhirnya engkau datang juga. Bagaimanakah aku harus menunjukkan keberadaanku kepada semua subyek agar aku ini dikenal oleh mereka?
Pemuda bijak berjenggot:
Baiklah. Aku tahu kerisauanmu.Aku akan membantumu semampuku. Ikutilah saranku ini,dan selebihnya bertawakallah engkau kepada Tuhan. Yang harus engkau lakukan adalah mengajak syarat-syaratmu kemudian bersembunyi dahulu dan mengamati kegiatan subyek. Apabila engkau merasa barusaja di gunakan, laporlah langsung kepada hakim. Namun ingat, engkau tidak perlu melaporkan semuanya, karena engkau sendiri takkan sanggup membilang dirimu. Gunakanlah senjata reduksi yang berada di keranjang kebenaranmu itu.
Silogisma:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot.
Pemikiran deduktif:
Wahai silogisma, diam-diam aku telah mendengarkan pembicaraan kalian tadi. Aku bersedia membantumu karena engkau adalah bagian dariku.
Silogisma:
Siapakah engkau? Mengapa engkau selalu didepanku?
Pemikiran deduktif:
Aku adalah pemikiran deduktif. Aku berada didepanmu kapanpun dan dimanapun, karena aku adalah prasyarat dari keberadaanmu. Aku menyaksikan penarikan pernyataan yang bersifat umum ke khusus. Maka dari itu, apabila ada penarikan pernyataan yang bersifat umum ke khusus, maka bisa jadi itu dirimu.
Silogisma:
Baiklah kalau begitu, wahai pemikiran deduktif, tuntunlah aku kapanpun dan dimanapun aku berada.
Pemikiran deduktif:
Namun aku mau bertanya kepadamu dulu, apa yang engkau bawa itu?
Silogisma:
Oh, ini adalah reduksi yang berada di keranjang kebenaran. Inilah modal awalku memulai pengembaraanku.
Keranjang kebenaran:
Salam wahai Pemikiran deduktif. Kenalkan, aku adalah keranjang kebenaran,lengkapnya adalah keranjang kebenaran relatif. Dan kenalkan juga ini adalah reduksi. Aku rasa kita dapat berpatner karena kita sama-sama menjadi prasyarat silogisma. Maka masuklah kedalam diriku segera karena kita akan langsung beranjak.
Silogisma:
Oh, ternyata keranjang kebenaran ini juga dapat berbicara. Baiklah, engkau juga aku beri amanah mengamati diriku agar diriku selalu berada dalam kebenaran. Lalu bagaimana denganmu wahai pemikiran deduktif? Maukah engkau menerima tawaran keranjang kebenaran untuk masuk ke keranjang yang sempit ini?
Pemikiran deduktif:
Salam juga keranjang kebenaran. Akh, aku rasa tidak perlu. Terima kasih atas tawaranmu itu. Kita tetap dapat bekerjasama dengan posisi kita masing-masing.
Silogisma:
Baiklah. Mari kita mulai bekerja mencari subyek-subyek itu. Lekaslah bersembunyi
><
Premis1:
Aku adalah premis1. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “semua manusia pasti akan mati”.
Premis2:
Sombong sekali engkau wahai premis1. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa semua mahasiswa itu adalah manusia.”
Konklusi:
Salam wahai premis1, salam wahai premis2, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran. Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘semua mahasiswa itu pasti akan mati.’
Premis1 dan premis2:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis1,premis2,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis1,Premis2,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat kategorik. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma kategorik.
Silogisma kategorik:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Jika engkau bertanya maka aku muncul’. ‘Jika aku muncul maka aku berusaha menjawab pertanyaanmu’. Jadi aku tinggal mengatakan ‘jika engkau bertanya, maka aku berusaha menjawab pertanyaanmu’.
Silogisma kategorik:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Premis3:
Aku adalah premis3. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “jika malam tiba, maka matahari tidak terlihat disini”.
Premis4:
Sombong sekali engkau wahai premis3. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa saat ini telah malam.”
Konklusi:
Salam wahai premis3, salam wahai premis4, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran, Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘saat ini matahari tidak terlihat disini.’
Premis3 dan premis4:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis3,premis4,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis3,Premis4,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat hipotetik. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma hipotetik.
Silogisma hipotetik:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Jika engkau bertanya maka aku muncul’.dan ‘engkau sedang bertanya’. Jadi aku tinggal mengatakan ‘aku muncul’.
Silogisma hipotetik:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Premis5:
Aku adalah premis5. Aku bersaksi dengan kebenaran relatifku bahwa “saat ini si fulan sedang berada di masjid atau dirumah”.
Premis6:
Sombong sekali engkau wahai premis5. Bahkan kalimatmu itu masih ambigu. hey, aku juga bersaksi dengan kebenaran relatifku “bahwa saat ini si fulan sedang berada di masjid.”
Konklusi:
Salam wahai premis5, salam wahai premis6, aku adalah konklusi. Tak usahlah kalian berseteru seperti itu. Memang kalian adalah dua hal yang berbeda. Namun, apabila yang kalian bicarakan itu suatu kebenaran, Maka aku berani bersaksi atas kalian berdua bahwa ‘saat ini si fulan tidak berada di rumah.’
Premis5 dan premis6:
Mengapa engkau berkata seperti itu wahai konklusi?
Konklusi:
Aku tidak tahu. Tapi aku suka berfikir seperti itu setiap kali kalian muncul.
Silogisma:
Salam wahai premis5,premis6,dan konklusi. Kenalkan, aku adalah silogisma. Aku barusaja kalian panggil. Aku bersaksi bahwa kalian bertiga adalah perpaduan yang apik. Maka dari itu bersedialah menjadi saksi keberadaanku yang baru.
Premis5,Premis6,dan konklusi:
Salam wahai silogisma yang beratribut sungguh lengkap. Terima kasih engkau telah menerima kami bertiga ini. Namun kami bertiga ini siapa?
Silogisma:
Akh,em, oh, yaya. Hm, siapa kalian?
Pemuda bijak berjenggot muncul:
Salam wahai semuanya, benarlah apa yang dikatakan silogisma itu. Kalian bertiga adalah koalisi yang cocok. Maka dari itu akan aku sematkan di pundak kalian derajat disjungtif. Mulai saat ini, aku akan menyebut kalian sebagai silogisma disjungtif.
Silogisma disjungtif:
Terima kasih wahai pemuda bijak berjenggot. Namun, bilamana aku dapat berguna?
Pemuda bijak berjenggot:
Engkau tidak usah risau. Engkau tinggal menganalogikan pemikiran konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang ada. Engkau juga dapat menambah premismu sebagai peningkatan dimensimu. Sebagai contoh, bahkan sekarangpun aku sedang menggunakanmu. Perhatikan. ‘Sekarang engkau bertanya atau menjawab’.dan ‘tentu sekarang engkau bertanya’ . Jadi aku tinggal mengatakan ‘engkau tidak menjawab’.
Silogisma disjungtif:
Ya ya. Aku merasakan sedang engkau gunakan. Berarti aku juga bisa berada di pikiran setiap subyek-subyek itu.
Silogisma kategorik, silogisma hipotetik, dan silogisma disjungtif berteriak:
Wahai hakim, dimanakah engkau berada? Sekarang ini kami sudah menemukan diri-diri kami. Inilah bukti eksistensi kami.
Hakim:
Hahaha... aku geli mendengar teriakan kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan kalian semenjak kalian berkoalisi tadi. Aku selalu berada didalam dan diluar pikiran kalian karena masing-masing dari engkau itu sebenarnya adalah juga bagian daripadaku. Kamu adalah aku juga. Akukan sudah mengatakan bahwa aku dapat muncul setiap saat asalkan kalian membutuhkanku. Mulai saat ini, aku angkat derajat kalian menjadi sebuah hukum silogisma. Gunakanlah jabatan ini untuk melayani para subyek yang membutuhkanmu. Jadikanlah hidup kalian untuk dapat memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Saya menghargai usaha anda dalam melakukan ijtihad menggapai logos.
BalasHapus